Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

Foto-Foto Seksi Melinda Dee

Melinda Dee sebuah nama yang akhir-akhir ini menghiasi berita di setiap media terutama di maya, bersamaan dengan beredarnya sebuah nama seseorang wanita bernama Selly Yustiawaty yang masing-masing berindikasi bermasalah hal yang berkaitan dengan uang.

Terlepas benar tidaknya yang jelas saat ini keduanya sedang dalam penanganan yang berwajib. untuk membuktikan kepada publik. Melinda Dee dengan latar belakang seorang manager Citibank dengan angka fantastis dugaan 17 Milyar telah digelapkan. sementara Selly Yustiawaty dugaan beberapa penipuan dengan modus melalui bisnis di dunia maya.

Cukup mencengangkan memang baik Melinda Dee wanita kelahiran 5 juli 1965 dan Selly Yustiawaty ini seakan-akan telah menenggelamkan berbagai berita Nasional terutama Perpolitikan di Indonesia yang juga sedang hangat-hangatnya menghiasi media seperti biasanya.

Dan tidak bermaksud untuk latah juga turut menghakimi, biarkan keadilan berjalan untuk membuktikan kepada keduanya yang kini mendapat julukan wanita seksi pembobol bank dan wanita cantik penipu itu.

Disebut seksi karena mungkin Foto Melinda Dee dan Foto Selly Yustiawaty yang tampil dengan busana yang berani. dan rupanya para peselancar maya mendapatinya baik melalui facebook atau blog pribadi mereka. apalagi Melinda Dee yang disebut -sebut memiliki seorang suami yang masih sangat belia berusia 21 tahun yang berprofesi bintang sinetron sementara dia sendiri sudah 47 tahun, begitu menarik para pemburu berita







  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Taufiq Ismail dan Tuduhan Plagiarisme Puisi

Nama penyair angkatan 66 yang terkenal dengan kumpulan puisi 'Tirani dan Benteng' Taufiq Ismail mendadak ramai diperbincangkan di situs-situs jejaring sosial di internet. Berawal dari isu yang menyebutkan bahwa Taufiq mengancam akan menyerbu dan membubarkan diskusi buku tentang seniman Lekra di PDS HB Jassin, TIM. Namun, belakangan, perbincangan merembet ke isu plagiarisme.

Sebuah puisi berjudul 'Kerendahan Hati' yang disebut-sebut sebagai karya Taufiq Ismail dituduh sebagai karya jiplakan! Puisi itu dituduh sangat mirip dengan puisi berjudul 'Be the Best of Whatever You Are' karya penyair Amerika Serikat kelahiran tahun 1877 Douglas Malloch.  Segera, isu plagiarisme itu menyebar, baik di Twitter maupun Facebook sejak Kamis (31/3/2011).

Sedangkan, isu bahwa Taufiq akan membawa massa menyerbu PDS HB Jassin itu berhembus sejak beberapa hari sebelum diskusi buku itu berlangsung, pada Jumat (25/3/2011). Diskusi buku itu untuk memperingati 100 hari meninggalnya penyair Asep Sambodja. Buku itu berjudul 'Asep Sambodja Menulis: Tentang Sastra Indonesia dan Pengarang-pengarang Lekra'. Taufiq yang memang dikenal getol menentang ideologi komunisme kabarnya keberatan jika PDS HB Jassin dipakai untuk acara yang membahas "pengarang-pengarang Lekra".

Di Twitter, banyak orang menyayangkan "ancaman" Taufiq itu.  Namun, ketika acara diskusi itu digelar, ternyata Taufiq tidak muncul. Perbincangan tentang Taufiq pun menghilang dari media sosial, hingga akhirnya muncul lagi dengan isu yang berbeda, yakni plagiarisme. Kali ini, tidak hanya di Twitter, kehebohan pun terjadi juga di Facebook. Salah satu yang paling ramai terjadi di akun Facebook Bramantyo Prijosusilo.

Diskusi yang terjadi di akun itu melibatkan sejumlah pelaku sastra, seperti novelis Soe Tjen Marching. Bahkan, diskusi berhasil 'mengundang' Fadli Zon, keponakan sekaligus editor buku kumpulan puisi Taufiq Ismail. Bramantyo sendiri juga seorang pegiat sastra dan pernah aktif di Bengkel Teater Rendra. Menurut Fadli Zon, tidak ada puisi karya Taufiq Ismail yang berjudul 'Kerendahan Hati'.

Fadli adalah Ketua Panitia 55 Tahun Taufiq Ismail berkarya pada 2008, dan mengeditori 4 jilid buku kumpulan karya Taufiq Ismail 'Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit'. "Buku pertama adalah buku puisi setebal 1076 halaman, berisi kumpulan puisi Taufiq Ismail dari tahun 1953-2008. Setelah saya periksa tak ada puisi 'Kerendahan Hati'," klarifikasinya.

Lebih jauh Fadli mengatakan, Taufiq Ismail memang menerjemahkan juga puisi 160 penyair Amerika yang dikumpulkan dalam 'Rerumputan Dedaunan' yang belum diterbitkan. Paling banyak puisi Walt Whitman. "Tapi puisi Malloch tak pernah diklaim puisi Taufiq IsmailI. Jika ada referensi mohon bisa ditunjukkan di buku mana Taufiq Ismail mengaku puisi itu adalah miliknya," pinta Fadli.

Fadli juga mengaku sudah menelepon langsung Taufiq Ismail untuk menanyakan hal itu. "Jawabannya, ia tak pernah mengklaim puisi 'Kerendahan Hati'. Ia juga sedang cari di file, sementara belum ada. Di kumpulan karya terjemahan 'Rerumputan Dedaunan' juga tak ada. Jadi Taufiq Ismail belum tahu puisinya yang mana. Ia mengatakan rasanya pernah membahas puisi itu atau menerjemahkan puisi itu dalam kegiatan Siswa Bertanya Sastrawan Menjawab di sekolah-sekolah," paparnya.

Kemudian Fadli menambahkan, "Kalau itu puisi terbaiknya, tentu ada di buku yang saya terbitkan. Di internet, tak ada data yang jelas. Bahkan penulisan namanya pun salah, Taufik bukan Taufiq. Mungkin ada info atau sumber yang lebih tajam, yang menyatakan bahwa Taufiq Ismail memang menulis puisi itu? Kalau tidak ada, polemik ini menjadi pepesan kosong."

Memang, jika dilacak di mesin pencari tentang puisi berjudul 'Kerendahan Hati' itu, yang muncul adalah puisi dengan nama pengarang Taufik Ismail --pakai 'k', dan bukannya 'q'. Apakah si pengunggah puisi itu salah ketik? Atau, memang ada Taufiq Ismail yang lain, yang berbeda dalam ejaan nama?

Belakangan, setelah Fadli Zon menelepon, Taufiq Ismail sendiri datang ke perpustakaan Fadli. "Tadi Pak Taufiq Ismail datang ke perpustakaan saya, dan mengkonfirmasi langsung bahwa puisi itu bukan karya Taufiq Ismail. Jadi sudah cukup jelas."

Atas konfirmasi yang disampaikan Fadli Zon itu, Bramantyo sebagai 'tuan rumah' diskusi pun kemudian membuat pernyataan:

"Taufiq Ismail bilang kepada Fadli Zon bahwa puisi 'Kerendahan Hati' terjemahan karya Douglas Malloch bukan kerjaan dia. Saya minta maaf telah menjerumuskan Soe Tjen Marching, dan kawan-kawan soal ini. Taufiq Ismail, dalam hal ini, bukan plagiator."


sumber: http://m.detik.com




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Underground bukan Zionisme


Underground bukan Zionisme, urus saja keyakinan kalian sendiri >>> sebuah jawaban atas tuduhan fpi


Sebenarnya ini bukan sebuah hal yang baik untuk memulai hari Senin, ketika lagi lagi sebuah berita di koran terkenal Jakarta yaitu The Jakarta post membuat saya tertegun, terhenyak dan kemudian marah marah. Namun musti bagaimana lagi bereaksi, ketika kebodohan demi kebodohan terus saja dilancarkan untuk menyerang praktek kehidupan bertoleransi dan berdemokrasi.


... ... ...

Jika membaca terhadap pernyataan Farid Budi Fahri, yang konon seorang anggota senior fpi, serta seorang pakar musik Islam, yang menuduhkan bahwa musik underground beserta segenap variannya membawa misi zionisme, maka saya kemudian dengan tegas menolak dan balik mempertanyakan pengetahuan kesejarahan musik dan budaya dari saudara Fahri itu sendiri.

Underground memang lahir sebagai sebuah bentuk budaya tandingan. Namun kita harus memahami secara historis dan secara kontekstual akan budaya tandingan itu sendiri. Musik punk yang lahir di Inggris, disana memang harus terlahirkan sebagai sebuah bentuk tandingan terhadap sistem monarki yang menghegemoni sendi sendi kehidupan rakyat Inggris. Ketika ia menyebar ke seluruh dunia, ia tidak diserap secara mentah mentah, namun juga beradaptasi dengan kultur kultur lokal setempat. Di Amerika, ia menjelma menjadi hardcore, budaya tanding terhadap fasisme, rasialisme, diskriminasi serta kebijakan politik dan ekonomi bernama New World Order.

Demikian pula dengan musik Thrash Metal. Musik ini adalah sebuah bentuk kemarahan terhadap sistem sosial ala Barat, serta sebagai sebuah bentuk terapi psikologis terhadap segenap individu yang tidak akan pernah bisa fit didalam sistem sosial tersebut. Kita bisa menyimak hal tersebut dari lirik liriknya. Dan ini adalah fakta kesejarahan yang ada.

Black Sabbath lahir di sebuah kota penuh pabrik di Inggris yaitu Birmingham. Tentu saja lirik liriknya banyak terpengaruh kepada kemarahan kaum pekerja disana. Jika Ozzy Osbourne kemudian membawa bawa peti mati keatas panggung, maka itu adalah sebuah simbol kemarahan Black Sabbath terhadap sistem sosial pada saat itu.

Metallica, Megadeth, Anthrax, dll lahir di Amerika. Bisa kita lihat bahwa kultur dan sistem sosial disana sudah sangat dekaden, sehingga melahirkan sebuah tandingan bernama Thrash Metal. Lirik lirik yang ada tidak dengan serta merta menyerang, namun lebih kepada memberikan sebuah terapi psikologis terhadap segenap metalhead yang memang tidak akan pernah bisa fit dalam sistem sosial tersebut. Bahkan juga beberapa lagu dari dari kaum Thrash Metal Amerika itu sendiri sebenarnya sangat anti perang, sebagai contoh sebaiknya silakan disimak Holy War dari Megadeth.

Lalu jika kita lebih melihat kepada permasalahan pencitraan yang terjadi dalam musik Metal, itu sendiri sebenarnya adalah sebuah ironi. Karena Metal sejak awal ia memposisikan diri sebagai anak haram peradaban Barat. Tengkorak, monster, binatang liar, serta segenap imaji rusak yang dibangun oleh kaum metalhead yang bisa kita lihat dalam citra citra Iron Maiden, Metallica, Sepultura, dll itu adalah sebuah cermin rusak dari peradaban Barat itu sendiri.

Lalu jika dituduhkan bahwa Metal membawa pesan pesan bersifat Satanic, maka sebaiknya saudara Fahri Budi yang konon seorang pakar musik ini lebih menilik dari kesejarahan atribut Metal dan juga kesejarahan penyebaran musik Metal. Simbol tiga jari dalam musik Metal dipopulerkan oleh Ronnie James Dio, seorang musisi metal era awal. Simbol itu dalam budaya orang Italia dan orang Latin adalah sebuah cara kuno untuk mengusir setan dan roh roh halus. Singkat kata, simbol itu adalah simbol tolak bala. Ia kemudian menjadi simbol dalam musik Metal sebagai sebuah bentuk citra ironis terhadap sistem sosial itu sendiri.

Lalu jika menilik dari varian yang dibangun oleh musik Metal hingga ia disebut Satanisme, maka kita harus menilik kepada sejarah penyebaran musik Metal di Skandinavia yaitu Swedia, Norwegia, dll dan juga kepada konteks kultural dalam kehidupan Skandinavia itu sendiri. Swedia dan Norwegia adalah negara yang menjadi kampung halaman nobel perdamaian. Negara negara ini juga seringkali menjadi cermin keberhasilan budaya dan peradaban Barat. Namun ironisnya, disaat yang bersamaan diskriminasi juga terjadi dengan sangat keras disini. Diskriminasi ini terjadi dalam sebuah sistem sosial yang dikeluarkan oleh kebijakan kebijakan ala ajaran Nasrani. Disinilah musik Metal menemukan bentuk tandingannya, sehingga memunculkan varian bernama Death Metal, Black Metal dan Gothic Metal. Mereka memadu padankan musik Metal dengan budaya tradisional Skandinavia yaitu Viking sebagai tandingan terhadap diskriminasi sosial tersebut. Dan jika kita melihat penghancuran simbol simbol religius Nasrani dalam musik metal tersebut, maka itu adalah sebuah bentuk performance yang merepresentasikan terhadap diskriminasi yang dilakukan melalui kebijakan kebijakan ala Nasrani disana.

Saya sendiri menolak dengan keras jika kemudian diisukan bahwa musik musik underground membawa pesan pesan Zionisme dan kemudian semua orang menyukainya tanpa menyadarinya. Sebagai sebuah fakta, di Indonesia sendiri banyak kaum underground, entah itu punk, hardcore ataupun metal yang menolak terhadap Zionisme. Bahkan dalam dokumenter Global Metal yang disampaikan oleh Sam Dunn, Ombat personil band Tengkorak sendiri menyatakan bahwa ia anti Zionisme. Lagipula, contoh yang disampaikan oleh saudara Fahri yang seorang anggota senior fpi ini adalah lagu lagu dari John Lennon, yang notabene adalah seorang hippies dan bukan seorang pencetus atau pengikut gerakan underground. Sehingga hipotesa yang dilakukannya serasa tidak masuk akal dan jauh panggang dari api.

Lalu apa maksud dari fpi yang disampaikan melalui The Jakarta post ini ...
Jika saya mencoba menyimak, maka hal itu ada pada kalimat dimana musik underground menjauhkan anak muda dari nilai nilai keislaman.

Saya memberi contoh Kimung, eks personil band metalcore Burgerkill. Ia adalah seorang pemeluk islam dan juga seorang metalhead. Saya menyimaknya melalui beberapa tulisannya. Semasa kecil dan remaja ia memahami banyak ajaran Islam, dan kemudian selera musik metalnya mengajarkan sikap anti fasis dan anti diskriminasi. Titik potong terhadap kedua hal tersebut adalah saat ia menterjemahkan sendiri keyakinannya dalam sebuah sikap yang anti terhadap diskriminasi dalam bentuk apapun termasuk religi dan cenderung toleran terhadap segenap perbedaan yang ada. Apakah disini underground menjauhkannya dari ajaran Islam ... bisa saya jawab tidak ! Lagipula contoh mengenai Kimung bukan sebuah hal baru di Indonesia, karena saya juga mengenal banyak sosok underground yang disatu sisi juga masih meyakini ajaran agamanya.

Bagi saya sebuah produk budaya, apapun itu bentuknya akan selalu hidup dalam segenap hati para pengikutnya. Katakanlah marawis, kasidah, dll yang merupakan produk budaya Islam, apakah sekarang ia mati dan dilupakan jaman. Tidak, karena masih banyak orang yang juga melestarikan produk budaya ini. Sehingga sekalipun jaman telah berubah sedemikian drastis, dan satu bentuk budaya telah berganti budaya baru, namun tetap ada kaum kaum yang akan melestarikan produk produk budaya lama tersebut. Dan atas dasar inilah, maka saya lihat tendensi fpi dalam statement mereka di The Jakarta post adalah sebuah bentuk sikap insecure semata. Insekuritas yang jangan jangan dimasa depan bisa dipraktekkan dengan cara cara kekerasan dan fasisme. Gebuk, bacok dan sikat semua yang berbeda !

Indonesia bukan negara Islam sekalipun pemeluk agama terbanyak adalah Islam. Namun sekalipun suatu saat Indonesia menjelma menjadi negara teokrasi Islam dan demokrasi ditindas dengan fasisme religius, saya tetap meyakini bahwa musik underground mulai dari punk, hardcore, metal, dll akan tetap hidup di hati dan sanubari mereka yang mengimaninya. Ambil contoh saja Acrassicauda, band heavy metal asal Irak. Sekalipun kepala mereka diburu oleh kaum fundamentalis Islam baik dari Sunni maupun Syiah, namun selamanya mereka tetap menjadi seorang metalhead asal Baghdad. Seseorang tidak akan pernah bisa memaksakan nilai nilai tertentu untuk diyakini oleh orang lain, karena mereka sendiri pun memiliki nilai nilai tertentu yang mereka yakini dan merupakan yang terbaik yang dibentuk dari kehidupan mereka sendiri.

Agama adalah sebuah jalan humanisme, namun jika ia dipaksakan untuk menindas nilai nilai yang diyakini oleh orang lain, maka apa bedanya agama dengan Zionisme ... dan ini adalah sebuah pertanyaan balik saya untuk saudara Fahri Budi yang konon pakar musik dan anggota senior fpi ini.

Penulis : Karonkeren
source : http://karonkeren.multiply.com/journal/item/614/




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SBY Tak Boleh Abaikan Berita The Age

JAKARTA, RIMANEWS – Partai Demokrat membantah isi artikel salah satu koran di Australia, The Age, yang menuding Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono melindungi kasus korupsi Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP, Taufiq Kiemas.
“Itu isu tidak benar,” ujar Juru bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul, Jakarta, Jumat (11/3/2011).
Ruhut menjelaskan Presiden SBY tidak pernah mengintervensi lembaga penegak hukum. Salah satu buktinya, Presiden SBY tidak ikut campur soal kasus korupsi yang menjerat besannya, Aulia Pohan.
“Ini ada strategi lawan ingin melakukan pembunuhan karakter SBY, mereka lihat citra SBY semakin harum di mata masyarakat,” imbuhnya.
Senada dengan Ruhut, Staf khusus Presiden bidang Hukum, Denny Indrayana juga meragukan keakuratan data WikiLeaks yang dikutip oleh dua koran bergengsi Australia, The Age dan Sydney Morning Herald, dalam berita Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Dalam akun Twitternya, @dennyindraya mengatakan: “sumber wikileaks dari kawat2 USA is hasil info2 warung kopi unclearified!” katanya.
Ia melanjutkan, “Yg ditulis kawat US itu hasil ngobrol ngalur ngidul bukan data/fakta.”
Kemudian, “Kawat itu bukan dari data intelijen, pengumpulan info dari chit-chat saja.”
Sementara itu, Juru bicara kepresidenan Julian A Pasha menilai isi artikel salah satu koran di Australia, The Age, yang menyudutkan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sampah.
“Apa diberitakan di The Age tidak berdasarkan fakta, patut dipertanyakan. Itu tidak lebih dari sampah,” ujar Julian, Jumat (11/3/2011).
Julian menjelaskan Presiden SBY sudah membaca headline koran The Age yang memakai judul “Yudhoyono Abused Power” tadi malam. Belum ada tanggapan resmi dari Presiden soal artikel tersebut.
“Bapak Presiden sudah membacanya tadi malam, akan ada respon nanti. Kita lihat saja,” imbuhnya.
Julian menambahkan apa yang diberitakan The Age soal Presiden SBY bersumber pada Wikileaks, yang patut dipertanyakan keakuratannya. Selain itu, berita di The Age tidak ada verifikasinya.
“Mereka begitu gegabah, menuliskan berita tanpa ada verifikasi. Apalagi bersumber Wikileaks,” katanya.
Sebagaimana diberitakan, The Age memberitakan secara ekslusif telah menerima bocoran dari Wikileaks tentang kawat diplomatik Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Dalam kawat itu dikatakan bahwa Presiden SBY telah melakukan rekayasa hukum dan politik untuk melindungi para politisi korup. SBY dituduh campur tangan dalam kasus Taufiq Kiemas.
“Kawat (diplomatik) itu mengatakan Dr Yudhoyono telah secara pribadi campur tangan untuk mempengaruhi jaksa dan hakim untuk melindungi tokoh politik korup dan tekanan lawannya, dengan menggunakan Badan Intelijen Indonesia (BIN) untuk memata-matai saingan politik, setidaknya pada seorang menteri senior di pemerintahannya sendiri,” begitu tertulis dalam headline The Age edisi Jumat




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Makam Anggota Ahmadiyah di Bandung Dibongkar

Jum'at, 4 Maret 2011 15:59 wib

BANDUNG - Jenazah seorang anggota jemaah Ahmadiyah di Desa Buni Jaya, Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, dibongkar orang.

Almarhum Ahmad Mulyadi (55) merupakan jemaah asal Priangan Barat yang meninggal pada Rabu, 2 Maret lalu di Bogor. Awalnya keluarga memakamkan Ahmad di tempat pemakaman umum (TPU) Buni Jaya sekira Kamis kemarin sekira pukul 09.30 WIB.

Namun pukul 10.15 WIB ada yang menggali dan mencampakkan begitu saja. Akhirnya keluarga memindahkan jenazah ke tanah wakaf Ahmadiyah di Desa Buni Jaya yang berlokasi tidak jauh dari TPU.

Juru Bicara JAI Wilayah Priangan Barat Rafiq Ahmad menyayangkan adanya penggalian makam, apalagi hingga menelantarkan jenazah. Menurut dia, hal tersebut sudah bertentangan dengan nilai kemanusiaan.

“Perbuatan anarkis jelas harus ditindak karena melanggar kemanusiaan. Kejadian ini harus diusut polisi,” sebut Rafiq, Jumat (4/3/2011).

Dia menegaskan akan melaporkan kejadian ini ke polisi. Pihaknya juga telah menyiapkan kuasa hukum untuk menindaklanjuti masalah ini.




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS